Kesedihan yang Terpendam

Perspektif Karier Wanita Dimata FTM

First, FTM = Full Time Mother

Terinspirasi dari pekerjaannya jeng pocoyo a.k.a Sabai, yang membawa kita ke kawasan berbeda dengan ‘pelajaran’ yang berbeda pula, hasil dari share-nya si jeung sabai lewat tulisannya. Saya termenung lama sekali membaca artikelnya tentang wanita karier ini. Saya suka artikel itu, karena memang seperti itulah perbedaan antara bekerja dan berkarier.

Tidak masalah apapun pilihan wanita/istri/ibu, mau hanya sekedar bekerja, atau berkarier – yang artinya bekerja dengan cerdas, dengan tujuan profesi secara jelas dan direncanakan (jika kemampuan dan kesempatan mendukung, tentunya). Meski menurut saya, sayang sekali, jika hanya semata ditujukan untuk sekedar dapat uang, kenapa gak suaminya aja yang diberdayakan, dimaksimalkan, khan nanti di akherat juga, yang ditanya tuh, suami kita-bertanggungjawab nafkah lahir bathin gak- sedang kita, ditanya pertanggungjawaban kita dalam mengurus anak2 – akhlaknya baik gak – menjadikan anak kita baik, itu adalah tujuan yang harus dicapai setiap ibu, saya kira. Gak cukup dana dari suami? Gak ada jatah untuk nyalon, shopping mid-night sale, ngopi2 atau ngeteh2 cantik? Well, hidup ini memang bukan surga sih ya (LOL). Ada kokkk, kalau kita support karier suami, ntar khan jadi big bos juga tho, nah kita bisa dong, minta digaji ama dia **hihihi**. Intermezzo : lain soal jika single parent atau suami tidak/kurang bertanggung jawab – tidak ada pilihan selain berjuang demi anak.

Oke, saya terinspirasi menulis artikel ini, bukan hanya dari artikel jeng sabai, tapi juga komen2nya yang lumayan serius. Salah satunya komen dari mas Dony ariya, yang dibenarkan oleh Sabai, yang ini nih. Saya bukan mau debat kusir ttg setuju atau tidak, bukaaan -semua orang berhak punya pendapat, begitu juga semua orang berhak untuk tidak sependapat- tapi yang mengusik saya, apa benar Life knowledge seorang wanita karier itu lebih bagus atau bermutu dibanding dengan seorang ibu rumah tangga biasa yang full time di rumah mengurusi anak2 dan rumahtangganya ?

Apakah ibu itu menjadi seorang yang tidak up-to date cara berfikirnya, atau gaya bahasanya, atau cara dia bergaul – hanya dengan berdiam diri di rumah ? Bisa jadi iya!. Tapi, apakah seorang wanita bekerja diluar rumah, sudah pasti mempunyai life knowledge lebih bagus, dan dengan pergaulan yang lebih luas, bisa menjadikannya pribadi yang berkualitas? jika rutinitasnya hanya : pergi pagi sekali, sebelum anak2 dimandikan dan dikasih makan (karena masih tidur) – anak dititipi ke mertua atau ke simbok di rumah – sampai kantor sarapan, buka imel, buka fesbuk, buka ngerumpi, buka twitter, buka plurk, donlot dari yutub, sampe tiba waktu makan siang, istirahat, kerja bentar, browsing lagi ampe sore – pulang sampe rumah, udah cape, interaksi dengan anak gak maksimal, apalagi yg anaknya sekolah, gak sempat ngajarin pe ernya – trus besok paginya berulang kegiatan yang sama (cih, ini sih potret wanita2 diluar sana, percaya deh, wanita2 di ngerumpi sini mah, teladan semua, gag ada yang model begini, ya , iya khan…**diancem golok**).

Apa iya, life knowledge dia lebih berkualitas hanya karena dia megang computer seharian; berinteraksi dengan orang2 yang berpendidikan (tinggi) seharian lantas menjadikannya lebih “humanis” dari seorang ibu rumah tangga biasa yang pagi2 sudah berjibaku untuk anak2 dan suaminya, entah memberi ASI (jika masih bayi) atau menyiapkan sarapan dan bekal untuk suami dan anak2 (jika sudah sekolah), kemudian ke pasar dan berinteraksi dengan simbok penjual sayur, ke sekolah anaknya dan berinteraksi dengan sesama orangtua murid, juga guru anaknya, ke tempat latihan senam aerobik dan berinteraksi dengan yang ada disitu, atau ke pengajian / perkumpulan2 doa dan berinteraksi dengan sesamanya disitu, belum cukupkah life knowledge si FTM itu tanpa dia bekerja diluar rumah ? Atau, lebih rendah kah kualitas life knowledgenya dibanding mereka para wanita yang bekerja di kantor ? Saya rasa tidak.

Lantas, apa yang seharusnya jadi motivasi kuat seorang wanita, khususnya yang sudah menjadi ibu, untuk tetap bekerja diluar rumah ? Menurut saya, seyogyanya alasan sekadarnya supaya bisa dapat tambahan penghasilan, mesti ‘ditingkatkan’ kualitasnya, menjadi ‘Agar saya dapat menjadi bermanfaat bagi lingkungan terdekat saya’.

Bermanfaat bagi tempat dimana kita bekerja, jauh lebih mendatangkan keuntungan buat kita, dari hanya sekedar gaji, terlebih lagi orang2 di sekitar kita akan merasakan manfaat dari kehadiran kita. Saya pernah ingat ini (gag tau namanya quote apa bukan, tapi maknanya bagus banget) : Jangan pernah menjadi orang yang tidak pernah dicari. Jadi kita mau hadir kek, atau enggak di kantor, ya gak berpengaruh apa2- wong kita emang gak ada apa2nya. Jika sudah seperti itu, buat apa kita hadir disana, seyogyanya di rumah lah kehadiran kita bisa jadi lebih bermakna, bukan? Gak juga?wow, miris sekali nasib anda yach :P . Kalau di rumah anda merasa kurang berarti, tandanya anda harus lebih menghargai diri sendiri, dengan membuatnya lebih berarti bagi anak, suami dan keluarga.

Ketika kita bermanfaat bagi lingkungan kerja, otomatis akan berdampak positif buat diri kita pribadi. Dari sisi materiil, secara jangka panjang pastinya iya!.Di sisi non materiil, nah disini, saya baru membenarkan bahwa wanita yang bekerja di luar rumah lebih punya life knowledge lebih tinggi dan berkualitas dibanding dengan wanita yang di rumah saja. Mengapa? karena dia bermanfaat kehadirannya tidak hanya di rumah, tapi tempat dimana dia bekerja juga sangat membutuhkan kehadirannya, pikiran2nya, karya2nya.

Tulisan ini memang dibuat dari perspektif seorang ibu rumah tangga, yang kebetulan sekarang merasakan bagaimana rasanya full di rumah, mengurusi ini itu. Sebelumnya sempat bekerja DAN berkarier, setelah delapan tahun, dengan berbagai pertimbangan, jadilah memutuskan dan diputuskan untuk di rumah SAJA. Awalnya exciting, tapi lama kelamaan saya minder. Kenapa? Ya karena stereotype itu, bahwa FTM (pasti!) gag gaul, kuper ama berita2 politik, berita2 ekonomi, kerjaannya nggosip mulu, bacaannya tabloid gossip mulu, baca infobank kagak ngerti, baca tempo apalagi, kecuali iklan2nya. Baca cosmopolitan cuma rubrik seks nya aja, uhm..apa lagi ya, banyak deh, kalo mau dikumpulin, dan stereotype itu akhirnya dengan sukses membuat saya kehilangan jatidiri.

Tapi setelah saya melihat, bahwa di belahan bumi sana, ada sebagian kecil ibu2 sederhana, ibu rumah tangga biasa, tapi apa yang dilakukannya telah mengubah dunia, lewat tindakan nyatanya, berusaha bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya. Ibu2 pengrajin limbah plastik di bandung dan di bekasi, ibu2 yang mengurus PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di pedalaman atau kampung2, misalnya-saya iri sama mereka, iri karena saya tidak bisa memanfaatkan waktu sebaik mereka. Dan, ternyata, memanfaatkan waktu untuk jadi berguna itu ndak mesti dengan bekerja di luar rumah, ndak mesti jadi wanita kantoran dulu supaya kita ‘ap to dat’. Justru ide2 brilyan yang bermanfaat bagi umat itu, datangnya dari pemikiran seorang yang sederhana dalam berfikir, gak rumit seperti orang2 yang berpendidikan tinggi itu. Sesederhana ini : bagaimana sesuatu bisa diimplementasikan ke dalam keseharian, bukan hanya omongan di mulut.

Jadi, ternyata, life knowledge itu ada dimana-mana, bisa kita jumpai kapan saja. Ketemu pedagang sayur, kita belajar arti kerja keras, ketemu guru2 di sekolah, kita belajar arti kesabaran & belajar ilmu komunikasi yang efektif; berangkat aerobic, kita belajar mensyukuri karunia Tuhan, masih bisa olahraga & gak sakit; di rumah, ketemu anak, tentu aja banyak pelajaran yang bisa diambil ; kerjaan udah beres, bisa baca buku2 bermutu, atau browsing internet(kalo ada) juga yang bermutu/bermanfaat, semua bisa dilakukan oleh wanita manapun, tergantung bagaimana si wanita itu menghargai dirinya sendiri, saya kira.

Setelah berusaha keras melepaskan diri dari stereotype diatas itu, saya pun akhirnya mendapat ide membuka ‘side job’ bagi suami, dimana saya justru jadi bigbos sekaligus karyawan, dan dia marketernya **OOT sih sebenarnya alias gag penting banget** tapi saya hanya mau mencoba membuka pemikiran saja, bahwa yang dibutuhkan hanya kreativitas berfikir, untuk menyiasati hidup kita menjadi lebih bermakna.

PS : buat mas Dony dan Sabai, aku mention nama hanya untuk memperjelas tentang life knowledge nya aja lho – bukan buat oposisi *doh! Kayak lagi ngomongin apa aja yaaaa (LOL)*, soale dulu juga sempet kepikiran dan merasa kok, kalau berhenti bekerja menjadikan kualitas hidup menurun. Tapi setelah dijalani, gak seratus persen hal itu benar.

So ladies, do you still have dilemma to choose between ‘be a worker or a full time mother’ ??
********************************

Begitulah tadinya isi artikel yang ingin saya posting disana, tapi saya urungkan niat itu. Mengapa ? karena setelah saya pertimbangkan, nantinya akan memicu debat kusir, atau saya menjadi konfrontatif dengan pendapat2 yang dilontarkan.
Akhirnya saya berpikir, APA PENTING PENDAPAT ORANG LAIN TENTANG STATUS SAYA – SEBERAPA PENTING ?

Rasanya yang terpenting adalah opini orang yang disebelah saya, orang yang menjadi belahan jiwa saya, orang yang selama ini selalu menaruh hormat setinggi2nya terhadap status saya sebagai ibu rumah tangga full di rumah, yang selalu mendampingi dia dan anak2, serta menjadi motivator utamanya dalam berkarier.
Menurut suami saya, justru saya telah mencapai kualitas jauh lebih baik ketimbang dulu ketika masih bekerja, dan semua stereotype itu tidak berlaku di istrinya, karena istrinya bisa menjadi teman ngobrol tentang ekonomi, politik, karier, dan tentu saja, kerjaan2nya di kantor, karena kami berasal dari satu disiplin ilmu yang sama. Terlebih, buat dia, tidak berkurang gairahnya ke saya, hanya karena saya berdaster kalo pagi sampai sore, tidak seperti wanita2 kantoran lagi, justru dia “takut” akan “kekuasaan overdosis” dari wanita2 yg menonjolkan statusnya secara tidak proporsional. I’m still good lover for him even I’m only simply housewife. Whatever the other men said, I don’t care.
People have their own opinion based on their own experience, and there’s no necessary to make a debate onto that.

18 Responses to this post.

  1. Hmmm, test comment lagi ahhh…

    Mestinya I dedicated this article only just for my dearest hubby, because of him, I could be a succesful FTM. Only good support and lovely reminder come from that men I love.
    When I discouraged, he encouraged me
    When I have any trouble, then he will be there to help me
    Without any words, but with abundance of love and caring…

    Reply

  2. inspired as always, mba :)

    ngakunya moda dengkul tapi artikelnya menginspirasi, apalagi kalo modalnya lebih dari dengkul ;)

    jadi FTM pun bukan berarti life knowledge nya cetek kan mba

    *applause buat mba Ade

    Reply

    • mudah2an dear…cetek atau gaknya, semua kembali ke kemauan org ybs :)

      Duh,beneran saya ngerasa modal dengkul doang kalo nulis…bo’ong ya? modal komputer ding :D

      Reply

  3. mbak, saya baca versi yg ini mendapatkan wacana baru. :)

    makasi ya mbak

    Reply

  4. tulisan yang cerdas dan dewasa,
    ini dia hasil dari life knowledege yg mumpuni :)
    Like tHIS :)

    Reply

  5. He..he..he.. sungkan ya mbak kalo beropini dan berbeda pendapat di ngerumpi ? :) ) Saya sekarang pun lagi males nulis di kakaknya ngerumpi (P) karena lagi males eyel-eyelan :D

    Btw, kenapa mbak cross posting dari ngerumpinya ? Di profil->setting->crossposting udah bener blog address + username ama passwordnya ? Mungkin ada typo di sana. ~asmuni/oldbugger

    Reply

    • wah, ada simbah…**sediain kopi**

      iyah, agak sungkan kalau untuk topik tertentu, bukan karena ndak mau berdiskusi, tapi takutnya saya sendiri yg salah beropini, jadi lebih baik dipendem di blog sendiri, biar lega aja perasaan saya, hehe…:)

      kalau di kakaknya ngerumpi, saya beraninya cuma jadi penonton aja, yg ini beneran takut salah omong **bekep mulut sendiri**

      Crossposting mau ta’coba lagi, mbah…Makasih lho, sdh dikunjungi blog eyel2 saya ini :)
      **ngeyel emang salah satu keisengan saya, mbah**

      Reply

  6. Nice post, Mbak! {paragraf ini: “Apa iya, life knowledge dia lebih berkualitas hanya karena…” sangat menggigit].

    Pengembangan diri dan pengembangan peran setiap perempuan memang beragam. Lihat saja perempuan2 berprestasi itu. Gak semuanya “aktivis online”. Tapi nyatanya mereka memberi manfaat (sumbangsih) bagi lingkungannya. Dan yang namanya lingkungan dalam lingkup terkecil adalah dunia domestik.

    Ibu-ibu sebuah RT yang mengembangkan kesadaran buang sampah dan mengembangan tanaman obat dalam pot, bagi saya itu luar biasa. Memang sih mereka gak pake milis, gak pake FB. :) Maksud saya belum. :)

    Reply

    • Ya, spt itu juga sbnernya moral of the story-nya, bahwa gag melulu yg terlihat ‘educated’ bisa secara nyata berkontribusi, bahkan utk lingkungan domestiknya sendiri. Kalau mau jujur, tidak semua perempuan berkarir, mandiri seutuhnya tanpa campur tangan pihak intern keluarganya – disini kemandirian domestik/keluarga inti,sdh hilang SEBAGIAN, mnrt saya.

      Kalau boleh memilih, saya dan ibu2 lainnya ingin keduanya berjalan beriringan dg kontribusi penuh, jadi tanggungjawab domestik scr utuh dijalani, tanggungjawab karir yaitu berkontribusi bagi kemajuan persh juga dijalani baik. Pd kenyataannya terlalu banyak benturan.
      Dan ibu2 FTM ini, sedikit banyak mengalami dilema. Jadi, perlu ada pelarian positif, bhw mereka bisa mengemban tanggungjawab lain, diluar domestiknya, SESUAI KEMAMPUAN masing2. Dan itu, tidak bisa dianggap SUDAH PASTI LEBIH RENDAH kualitas kontribusi mereka, dibanding dg wanita pekerja.

      **lho kok, panjangan saya**
      Terlalu bersemangat menanggapi kunjungan paman, terimakasih banyak lho, suwun. :)

      Reply

  7. perempuan yang bekerja (atau berhenti bekerja krn menikah) biasanya lebih baik mengelola uang rumah tangga daripada perempuan yang ga kerja.. karena perempuan kerja tau kerja keras dibalik uang itu.

    salam kenal yah! :mrgreen:

    Reply

    • waaaah, mas El, jauh amat, maen2nya ampe di mari..hihihi :D

      Saya gag sangka, apresiasi sebaik itu dari seorang Eliabintang, kpd ibu2 yg hanya di rumah (eh, tapi ngurus rumah tangga-maksudnya, bukan petantang-petenteng ngabisin duit suami : LOL). **standing applause for you, mas El**
      Biasanya, hanya laki2 atau anak laki2 yang dibesarkan dengan kasih sayang yg cukup, dari ibunya, yang bisa mengapresiasi scr baik terhadap status FTM ini. Sosok ibu buat mereka menjadi panutan (lepas dari adanya peran ayah atau tidak) dan biasanya, ibu2 mereka mengajarkan dg contoh, bukan dg perintah.

      makasih ya, komennya…:D

      Reply

  8. hahahaha…dasteran dari pagi sampe sore, mbak? berpengaruh ya? *dilempar daster kotor*

    hidup adalah pilihan, selama pilihan itu kita jalani dengan totalitas, tentu nanti akan menuai hasil yang maksimal, jangan habiskan energi untuk memandang keluar sana *saya sih percayanya begitu*

    Reply

    • betul sekali…,tapi namanya juga manusia, punya hati punya rasa**kyk lagu apa ya?**
      ilustrasi paling gampang, ketika sekolah dulu, misal penampilan kita paling katrok diantara temen2 sekelas, meski otak kita lebih encer, ya tetep aja tho, sekali-dua kita melihat “disana” lebih bagus, lebih enak. Kita lupa mensyukuri karunia “otak encer” kita.

      Yaaa, sesekali ada kalanya sy hrs mengulang ‘kontemplasi’ kalau ‘pemandangan di luar sana’ lebih terlihat adem…:D

      Reply

  9. Posted by batjoe on November 11, 2009 at 5:28 PM

    saya cm mau kasih sedikit pendapat ttg masalah wanita karir…
    besar harapn saya sebagai laki-laki mungkin banyak baiknya wanita menjadi seorang ibu yang selalu menjadi wanita karir dirumah kalau waniata karir dikerjaan terbukti hampir terjadi perselisihan dan itu sering sekali terjadi..

    karena satu hal itu terjadi yaitu materi dan kehidupan kerja sehingga faktor sebagai ibu dan wanita menjadi hilang…

    saya tetap menghormati wanita karir tp ttp wnita rmah tangga menjadi modal utama kelak di hari pembangkitan karena mata dan mulut ditutup dan hanya hati yang bicara…
    rasanya berat banget tanggungannya nantinya..

    sip artikelnya menjadikan kita menjadi berpikir positif ttg wanita karir

    Reply

    • duh, makasih apresiasinya, bukan karena kebetulan kita sejalan, satu pikiran, tapi saya sendiri sering ragu dgn pendapat saya, bener gag sih, kalo sy berpendapat spt yg mas bilang…

      Mnrt saya, ya spt di artikel, sy lebih takut kalau ndak bisa ditanya pas “hari nanti” ketimbang ditanya pertanyaan2 nyebelin, “kerja dimana?” **hihihi**

      Tapi, tetap, saya percaya, masih ada wanita2 tangguh diluar sana yg bisa mengemban dua tanggungjawab sekaligus dengan baik :)

      Reply

Respond to this post