Berbicara Kepada Orang-Orang Sulit
Orang-orang SULIT yang saya maksud disini, bukan orang susah/kaum dhuafa lho ya *bukaaaaan* tapi…..
Orang-orang yang selalu bersikap defensif ketika ada orang lain mengkritiknya, bahkan lebih buruk, mereka seperti resisten terhadap kritik, komplain, masukan, yang sebenarnya mengkoreksi cara kerja mereka – dan sebetulnya mereka harusnya berterimakasih kepada orang lain yang telah mengingatkannya
BAHAYA! Ya, satu kata itu cukup rasanya untuk mengingatkan orang-orang seperti itu, buat masa depan – tidak saja buat orang lain yang dirugikan, tapi juga buat mereka sendiri.
Orang-orang sulit yang paling mengganggu hidup saya, yang tidak bisa saya hindari, adalah, satu lingkaran orang yang berkumpul dalam sebuah yayasan, dimana dua anak saya yang kelas 4SD dan 3SD bersekolah. Dem! I should make myself comfort with this, for almost seven years – three years left behind and four years later
Ketika memilih sekolah dasar untuk mereka, jauh-jauh hari saya ‘survey’ dgn mencari pilihan2 yang tersedia di dekat/sekitar tempat tinggal saya yang memang bukan di tengah kota. Sayangnya, pilihan sangat sedikit untuk kategori sekolah “A” (dilihat dari output mutu lulusan) Ya namanya sekolah, pertama yg saya cari adalah yang bisa membuat anak saya pintar, bukan sebaliknya. Setelah itu, bekal pendidikan agama, menurut saya pribadi, penting. Jadi untuk memudahkan saya, saya berharap sekolah bisa mengambil “porsi” saya dalam mengajarkan agama-artinya beban saya utk mengajarkan mereka, sedikit berkurang lah, kan di sekolah sudah diajarin, begitu pikiran saya.
Masuklah mereka (cuma beda 1 tahun, jadi setiap tahun saya harus bayar uang pangkal masuk sekolah) ke sebuah sekolah islam terpadu, bernaung di bawah sebuah Universitas islam terbesar se-indonesia, mungkin? nama universitas itu tentunya lumayan jadi jaminan mutu, dong – selain juga banyak orang berfikir, disitu dulu tempat nyamannya para teroris, kali? -entah,ga mau ikut2- yg jelas, SD ini lumayan lama berdiri, lebih dari 20 tahun, dan sudah banyak mencatat prestasi.
Tapi, sayangnya, nama besar yang mereka sandang, samasekali jauuuuhhhh dari kenyataan bahwa saya bisa memperoleh yang terbaik dari sana.
*seka air mata lagi* Kenapa saya sedih ? Karena saya kecewa, uang pangkal sekitar duabelas juta itu bukan hal kecil buat saya – yang ketika saya mentok , bisa saya buang gitu aja, trus cari sekolah lain yang lebih bermutu. Saya dan suami mengusahakan dengan susah payah untuk hal itu, disamping kami menyadari bahwa setiap tahun kami harus mengeluarkan jumlah yang sama (bahkan lebih) untuk menyekolahkan adiknya. Tapi rasanya usaha kami sia-sia aja, ketika setiap waktu mendapatkan ketidakpuasan akan layanan pendidikan mereka, kualitas servis mereka (lembaga pendidikan skrg udah jadi service publik, kan? So be profesional, please!) tapi disaat yang bersamaan kami harus terus menerus membungkam mulut kami untuk tidak menyuarakan keberatan yang seharusnya menjadi hak kami. Kan anak kami masih disana, apa jadinya, kalau akibat orangtuanya yang tidak bisa menahan diri, kemudian anak yang menanggung akibatnya, misal-di anaktiri kan, nilai2nya sengaja dijatuhkan, bahkan lebih jauh bisa diintimidasi? Saya bukan khawatir berlebihan, tapi semata realistis. Ini Indonesia, anything bad could happen beyond our rasional thinking.
Dari awal masuk sekolah, banyak sekali hal-hal mengecewakan yang saya temui. Mulai dari cara mendidik gurunya yang tidak benar *anak baik2 malahan jadi anak penakut, tidak kreatif, tapi sekaligus pembangkang* karena guru mendidik dengan cara disiplin streng yang cenderung keras, pemaksaan thd anak karena standar yang dituntut sekolah memang tinggi. Sampai pada masalah hal hal kecil nan remeh temeh, seperti fasilitas sekolah yang seperti SD negri bersubsidi – padahal kita sudah bayar cukup mahal disini (koreksi: MAHAL BANGET!), atau komunikasi antar orangtua siswa dengan guru kelas/wali kelas.
Saya sedari awal selalu mencoba menjadi orang yang asertif disini, dalam arti menyatakan ketidak setujuan saya dengan bahasa yang tegas, to the point tanpa perlu dihalus2kan juga tanpa perlu disertakan emosi di dalamnya. Tapi jujur, lama2 capek, karena nada kita yang “datar” mungkin *meski to the point, dan bicara langsung dengan orang yang berkompeten bertanggungjawab!* mereka cenderung cuek dan apatis, hanya “iya,iya” atau “kita tampung dulu masukan dari ibu” hehh?? Tampuuunggg??? Lu kira gentongg!!
Tapi dua tahun berlalu, cukup membuat saya merubah sikap saya dalam menghadapi mereka. Saya berprinsip, kalau orang itu tidak bisa merubah sikapnya, maka saya yang harus bisa merubah sikap saya terhadap mereka. Kan saya tidak bisa menghindari hubungan dengan orang-orang itu, toh?
Tapi kemarin, pertama kalinya saya loose control emosi saya – meski ga pakke teriak2 segala **diiih, amitt amitt! jangan sampe ah, kayak orang barbar aja** apalagi pakke kekerasan, BIG NO. Tapi kejadiannya cukup mengaduk aduk emosi saya, sanggup membuat dada saya naik turun dan napas tersengal-sengal ketika berbicara dengan ibu guru itu. Dan puncaknya, sukses mbikin saya sesenggukan di mobil pas perjalanan pulang, dan sempat menuliskan status fesbuk yang KERAS plus menyebutkan merk/nama tempat sekolah anak saya itu. Untung mas clingakclinguk ini cepat mengingatkan saya juga, disamping mbak Nuigel yang mengirim “sinyal” untuk ngobrol lewat inbox saja di FB. Makasiiih ya teman-teman. Ya, ya, ya-kasus bu prita cukuplah buat peringatan.
Masalah berawal dari, penanganan acara outbond yang diadakan pihak sekolah untuk murid2 kelas empat SD (si sulung saya termasuk bagian di dalamnya). Saya tahu, tujuan acara ini adalah positive, bahwa untuk mengajarkan sikap mandiri ke anak-anak. Saya setuju, karenanya saya pertama-tama tidak berniat menghalangi, dengan mengerem keinginan saya untuk mendampingi. Tapi begitu tahu lokasinya jauuuh sekali, di Ciseeng-Bogor sana, waktu tempuhnya kira2 dua jam dari rumah, saya khawatir, ketika ada apa2 dan guru tidak bisa menangani, lantas saya “terlambat” datang, syapa yang menyesal??? Jadi, gak percaya sama kemampuan guru? MEMANG! karena dua tahun sudah cukup buat saya, mengamati dan menarik kesimpulan serta menakar seberapa jauh saya bisa menaruh kepercayaan saya kepada seseorang.
Namanya outbond, pastilah aktivitas fisik yang lekat dengan kotor2an, karena harus menyatu dengan alam. Saya senang liat anak saya gag jijik, berbenam diri di lumpur, meski dia takut kalau2 ada belut. Saya bilang, gapapa kalau kamu gag ganggu, mereka kan mahluk hidup juga **padahal saya juga takut…
** Trus ketika hujan lebat turun, dibawah atap langit, dia memandikan kerbau, naik diatas kerbau, belajar memerah susu sapi, dibawah siraman air hujan. Oke, no problem. Saya hanya menepis kekhawatiran saya dengan berdoa : ” Ya Rabb, yang maha menciptakan langit dan bumi, yang menurunkan air hujan untuk keberkahan di bumi, tak ada satupun Engkau turunkan untuk keburukan, tidak juga dengan hujan deras ini. Kuatkanlah fisik anakku Ya Rabb, ijinkan hujan berdamai dengan penyakit alerginya, sesungguhnya Engkau maha mengetahui, bahwa yang anakku lakukan sekarang juga untuk kebaikan…“ Ya, berfikir positif satu2nya cara disamping pasrah, dan selalu tuangkan dalam doa.
Setelah selesai outbond, tentunya mandi yang bersih adalah kegiatan WAJIB, bukan? Karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Terutama setelahnya kita mau menunaikan shalat dzuhur. Tapi apa yang terjadi? panitia penanggungjawab acara yang tadi mendampingi, ketika hujan deras turun, mendadak bubar jalan, sementara anak2 masih terus dibiarkan bermain. Hanya menyuruh untuk segera mandi, tanpa mendampingi ke tempat permandian, menunjukkan dan mengatur antrian, agar semua tertib mandi dan bergantian shalat serta makan siang. kamar mandi yang disediakan notabane hanya EMPAT KAMAR MANDI DI ARENA, UNTUK 300 peserta/anak didik. DUA KAMAR MANDI DILUAR BISA DIGUNAKAN TAPI TIDAK ADA KUNCINYA. selebihnya, hanya air2 ledeng spt tempat ambil air wudhu. Bisa dibayangkan, suasana yang terjadi, tanpa pengaturan dan pengawasan dari guru???
Sementara itu, guru2 pada asik ngumpul sendiri, kongkow2 di meja panjang, sembari makan siang, di bawah pohon rindang, sementara hujan turun rintik2…syahdunya!!!!
Saya dan suami, gag tega ngeliat anak2 itu pada antri kedingininan. Akhirnya saya inisiatif, menyuruh anak saya mandi di pancuran pendek, yang letaknya mojok sekali, yg terhalang batu besar. Saya tutupi dengan payung golf yg saya bawa, sementara suami bantu memandikan si kakak, yg terus2 menolak kerna takut terlihat temen laki2nya. Tp sy berkeras, ga ada jalan lain, antrian terlalu panjang, baju di badan nanti bakalan kering, bisa masuk angin. ya sudah, untung suami bawa baju ganti, jadi ga masalah dia ikut kecipratan basah2an. Setelah itu, saya juga membantu teman2 satu grup anak saya, untuk bergantian mandi dibawah lindungan payung saya. Alhamdulillah mereka bisa mandi bersih. KAN ABIS NGINJAK TAHI KEBO????
Sementara anak lainnyaaa??? wallahualam, ga tau mereka mandi atau cuma ganti baju…
*lah, ortu murid kan gak ngikut, hanya beberapa, termasuk saya, yang mendadak memutuskan ikut* Ya rencananya, kita mau sekalian mengunjungi saudara yg di bogor, jadi suami mengambil ijin 1 hari, dan ternyata bisa. Tadinya saya mau melepas anak saya itu sendiri saja bersama rombongan sekolahnya.
Kekecewaan belum selesai. Ketika temen anak saya lagi sabunan dan keramas, tiba2 air mati! Saya beritahu yg dekat situ (penanggungjawab lokasi) bhw air mati. Mereka saat itu sedang mkan siang, gak jauh dari lokasi mandi. tau apa reaksinya? cuma bilang , iya..iya..TANPA BERANJAK DARI TEMPAT!
Terpaksa suami saya turun tangan, nyamperin mereka, minta nyalain skrg juga. SAMPE TIGA KALI BOLAK BALIK LHOOOO! KERNA GAG NYALA-NYALA!!! sementara ini antrian nambah panjang ! Dem! Sumpah kepala saya jadi pusing nahan2 emosi.
Setelah anak saya rapi dan teman2nya rapi, saya ajak mereka makan , tapi ada yg mau shalat dulu, jadi kita berpencar. Sementara suami masih menolong anak2 lain (yang kita dan anak saya juga gag kenal loohhh, cuma kerna ga tega aja, ga ada yg bantu mereka, sementara ortu lain ya sibuk dgn anak masing2 aja). Payung golf yg segede gaban saya tinggal di suami, demi nolong anak lain, yang saya juga ga tega. Saya pake payung kecil ,utk bertiga dgn anak saya. Mengantar ke tpt makan siang. Hujan gerimis agak besar kembali turun. Dan, ternyata tpt makan, ga ada yang di dalam ruangan tertutup. GOSH! mau duduk dan makan dimanaaa…dimana2 basah dan kehujanan…yg guru2 sih, makannya tadi, pas hujan reda. Lha anak saya kan masih berjuang utk mandi!!! Trus, saya liat sekeliling, masing2 pada nyari tpt sekenanya. Ya sudah, kerna kepala saya sdh pusing, saya cari tempat agak mendingan, yg bisa dipake anak sy duduk, trus saya berdiri mayungin dia lagi makan. Mana si bungsu juga ikut, kan gak mungkin saya tinggal dia di dalam mobil sendirian. Sementara, persis di sebrang saya, tiga guru asik bercengkarama, tanpa memperdulikan hujan yang turun dan makanan yang otomatis kehujanan dong ya??? plus ga mau ambil pusing sama anak2, udah pada makan siang atau belum???
YAK, CUKUPPP! ENOUGH IS ENOUGH! emosi saya nyampe ubun2. Ga tau pendidikan ini, dalemhati saya. langsung stlh anak saya rampung makan siang, sy bertanya kepada salah satu guru, siapa ketua penanggungjwab acara ini. Dan ke satu ibu guru itulah saya “bertamu” menumpahkan semua kekecewaan saya. Saya gak bisa detil menuliskan omongan sya ke dia. Tapi yg jelas, saya awali dengan salam, dengan nada datar saya kemukakan keberatan saya kepada guru-guru yang terlihat mau enaknya sendiri, tanpa memperhatikan anak murid. Etikanya, makan bersama-sama, dong ya? kok ini enggak. Dengan alasan, kan sebagian masih pada mandi. WHATEVER!!! emang yg didalam kamar mandi juga udah makan??? kan belom! Dem! Saya benci dengan refuse2 dari si ibu itu. Plus denial dia bahwa ini adalah acara untuk membuat anak mandiri, semestinya ortu gag boleh masuk ke arena, bla bla bla! FU*KSH*T ! begitu caranya membuat anak mandiri??? TOLOL!
Anak memang harus mandiri, tapi anak belum bisa mengatur sekian banyak orang supaya gag rebutan dan tetap tertib, itutugas orang dewasa. Orang dewasa harus memfasilitasi anak untuk bisa mandiri SESUAI KEMAMPUANNYA BERDASARKAN UMUR. IBuuuuuuu, kemana aja siiihhhh, tau Ki Hajar Dewantoro gag sih ibuuuu????? nih sinih, saya kasih lagi buku sejarah ke ibu guruuuu! OH, IBU GURU!!!
Cara mengkritik yang baik adalah dengan berfikir : bahwa kita menyayangi kedua belah pihak, menyayangi yang akan dikritik, juga menyayangi kita sebagai yang mengkritik. Sehingga cara penyampaian kita kepada si penerima kritik, tidak akan menghakimi. (-Mario Teguh-)
Tapi kalau respon yang kita dapat adalah negative, dan cenderung denial atau refuse, gimana…?
- Saya belum nemu jawabannya – masih
dan mau
kalo inget kemaren.
February 19, 2010 at 11:38 AM
Oiya, si ibu itu juga bilang, bahwa sebenarnya guru2 sekolah lepas tanggung jawab kalau sudah di arena outbond, kerna perjanjiannya adalah mereka MENYERAHKAN SEPENUHNYA kepada kakak2 pembina masing2 grup, untuk mengajari, mengawasi dan bertanggungjawab ke peserta regu/anak didik. Gilak, gak??? Jawaban macam apa itu!
Trus, dia bilang, Oke nanti saya komplain ke penanggungjawab pelaksana disini..semestinya mereka yang bertanggung jawab
Cuapppeee deeehhh….
Untung saya bukan orang kaya, kalo saya banyak duit, udah saya perkarakan ini, kalau perlu memecat orang2 yg ga bertanggung jawab. This is Indonesia, dimana orang-orang maju tak gentar membela yang bayar 8)
February 19, 2010 at 11:43 AM
aaaaaaarggghhh…panjangnya, duh jumatan dl deh, nanti abis makan siang aja bacanya
February 19, 2010 at 11:49 AM
hayoooh, harus baca, kan namamu disebut **bawa pecutan**
February 19, 2010 at 12:07 PM
Beehhh…. Saya yang gak di sana aja jadi ikutan emosi…
Dan saya setuju sama mbak, bagaimanapun itu tetap jadi tanggung jawab mereka. Minimal, begitu mengetahui ada yang kurang dalam penyelenggaraan mereka harus langsung menghubungi para kakak pembina yang ditunjuk itu.
Saya punya banyak pengalaman soal mengatur anak2 dalam kegiatan luar ruang. Dan Anda benar mbak, anak yang sangat mandiri sekalipun tidak akan bisa mengatur teman-temannya agar tertib. Wong kita yang dewasa saja bisa kewalahan.
February 19, 2010 at 12:36 PM
Lho, mbae tenaga pengajar juga kah? Semoga bisa menyikapi tulisanku dgn bijak, ya – ini bukan sekedar misuh2, tapi berharap ke depannya dunia pendidikan anak2 bisa cerah ceria dan berwarna, menyenangkan segala pihak
Iya, mba-mrka gag mengawasi blass. Ga tau saya mereka ada dimana ketika acara berlangsung. Malah saya yg kerepotan clingukan, ya dari jauh, sih – toh sy sadar diri, sy ga boleh turut campur.
So far pihak kaka pembina itu oke sewaktu acara berlangsung, tapi pas hujan dan di akhir acara, ya mereka bubar sendiri2..anak2 itu dibiarkan sendiri
February 19, 2010 at 12:51 PM
Bukan pengajar dalam arti berprofesi sebagai guru, mbak.
Ingat soal silat yang saya pernah tanya? Saya geluti dunia itu sampai hampir 12 tahun. Jadi saya tau pasti bagaimana tidak mudahnya mengatur sejumlah anak-anak berkegiatan luar ruang.
Nah, soal para kakak pembina yang bubar sewaktu hujan. Seharusnya itu menjadi perhatian panitia dari pihak sekolah. Kan sudah ada “perjanjian” di antara mereka. Jangan sampai menunggu ada kejadian dulu baru bertindak.
February 19, 2010 at 12:19 PM
akhirnya baca juga…
ga tau mau komentar apa. enak ya, bisa lepas tangan begitu saja. pengen refreshing kali, mak..makanya diserahin penuh ke pendamping kelompok.
omg!
soal milih sekolah ada di plurk saya tuh. bisa baca2: http://mdgandrastab.multiply.com/journal/item/132/Sekar_Mau_Masuk_SD
February 19, 2010 at 12:38 PM
tau aja si eneng, kayaknya begitu, pengen refreshing, anak orang kagak diawasin.
Okeh, langsung mluncur ke tkp…buat temen2ku yg mau masukkin anaknya ke SD
February 19, 2010 at 12:20 PM
kalo dari segi standard pengajaran materi disekolah gimana mbak, apakah diatas yang diharapkan atau malah dibawah harapan?
tapi baca tentang perilaku para guru ketika acara outbond itu memang sangat tidak profesional dan tidak layak dilakukan oleh mereka yang disebut sebagai guru ya.
apa mungkin para guru yang ikut acara outbond itu guru guru yang muda ya?
February 19, 2010 at 12:44 PM
kl soal standar pengajaran materi dlm arti akademis, mrka standarnya paling tinggi se-….. hehe, ga bisa bilang disini, daerah rumahku, ntar kelacak sekolahnya
Anak2 lulusan situ scr IQ gak perlu diragykan lagi, suhu Yo. Tp scr EQ, wallahualam ya….
Ttg umur, kurasa itu ga bisa jadi tolok ukur, yg muda, kadang lebih luwes dan perhatian/sayang sama anak2, yang tua kadang ngemong spt orang tua. Tapi juga bisa aja, yang muda egois mentingin diri sendiri, Yang tua gak mau capek, kerna faktor umur, juga gag sabaran, maunya diturutin perintahnya, anak2 ga boleh kritis.
Tergantung individunya-satu. Dua-tergntg pimpinan sekolah dan jajarannya menerapkan visi dan misi, serta melaksanakan itu.
Teori without Action is nothing, khan…
Ttg prilaku mereka selama outbond…hhh, sayang saya gag merekam semua nya dgn video, sbg alat bukti, minimal diantara kita aja, gak saya publish. Tapi ya ga mungkin juga ngerekam sekian lama
**saking keselnya, jadi lebay gag rasional
**
February 19, 2010 at 2:49 PM
jiah…memang ini diawali dari kesalahan menentukan jadwal outbound. udah tau musim hujan, malah outbound di Bogor. padahal Bogor nggak musim hujan pun tetap sering hujan.
Nah, kalau dibaca detil peristiwanya kok mirip sama ospek jaman saya mahasiswa ya mbak. Outbound dan hujan2an. Kebetulah di Bogor juga. Tapi senior kami nggak sekejam itu loh, ninggalin juniornya ujan2an.
Jadi, masalahnya di sini adalah, panitianya nggak punya langkah antisipasi. Mungkin juga dikarenakan mereka nggak survey lokasi dulu sebelumnya. Semoga ini bisa jadi pelajaran buat staff pengajar.
February 20, 2010 at 12:19 AM
walah, kalo anak kuliahan ospek , masih mending lah, udah pada gede2…sepanjang bentuknya bukan penyiksaan fisik dgn dalih penggemblengan lho yaaa.
Tapi ini kan anak umur 9-10 tahun, ya emang mesti diawasi dan “dituntun” sampai acara selesai.
Boro2 langkah antisipasi mbak, kayaknya survey lokasi nya juga cuma seorang-dua orang, wong saya tanya guru2 wali kelas penanggungjawab nya, kok pada ga tau letak persisnya tempat itu. Ketika saya tanya, dimana ancer2nya, kerna nyari di gugel map gag nemu. Jawabnya semua sama : “oh, saya kurang tau bu…coba tanya sama ibu I** (kpd blio ini sy menyampaikan uneg2 sy itu pas stlh acara) dan blio pula yang me-refuse komplain saya
jadi pelajran buat mereka, kalau ada yg bisa menyampaikan ini ke mereka mbak, masalahnya, mereka gakmau menggunakan kuping mereka utk mendengar. **masih aja ya, reply saya nadanya emosi**
February 19, 2010 at 3:43 PM
wah iya, nama saya disebut-sebut ternyata (horeeee….)
kalau ada masalah kayak bgini, sebaiknya komplain disampaikan langsung ke pihak yg dituju, secara tertulis lbh bagus (biar ada bukti), nah kalau tidak ditanggapi baru kita bisa memilih jalur lewat surat pembaca,mungkin.
hmmm…menurut saya dalam melaksanakan kegiatan di alam bebas, perlu banyak persiapan, panitia tdk boleh lepas tangan meskipun sdh ada pihak penyelenggara acara dr tempat outbond, misal survey lokasi, memikirkan sgala kemungkin buruk yg bs terjadi dan mencari solusinya (meski itu belum tentu terjadi).
jd inget waktu jaman sma, saat di eskul ada tes utk anggota baru, dimana para anggota hrs ikut kegiatan menyusuri pantai, nyeberangi sungai, dsb, maka sbg panitia wajib mencoba treknya dulu, 2 kali malahan, yg kedua tepat dilakukan di hari yg sama dgn acara, cm beberapa panitia berangkat lbh awal, cm buat jaga2 meminimalisir kemungkinan buruk terjadi.
February 20, 2010 at 12:25 AM
Disampaikan tertulis? duh, buang2 waktu dan tenaga, cling – sdh tau hasilnya nanti akan seperti apa.
Saya&hubby sdh sepakat, meng-cut ini sampai disini. Tapiiiii seandainya anak saya nanti kena dampaknya, baru kita pikirkan langkah selanjutnya. (misal ada bentuk2 intimidasi yg dia terima setelah kasus ini)
Studi tur merupakan kesempatan emas “nyari objekan” sih, uang yang berputar disitu gag nanggung2 kan. Kl hasil yg saya dapat gag seburuk ini sih, saya juga gag bakalan nyanyi. Kurang2 dikit sih, udah kekurangan yang sudah saya coba maklumi , dari mereka – dari dudlu hingga sekarang.
Asalkan jangan keterlaluan seperti ini.
February 19, 2010 at 11:46 PM
Kalo sampe ada yang sakit gara-gara outbond bisa dituntut kali ya sekolahnya ? Menelantarkan anak.
February 20, 2010 at 12:32 AM
Mbah…apa kabar..hehe
walah, nuntut??? Ini Indonesia, mbah…bukan Netherlands sana, apalagi amerika atau singapore, dimana bisa diterapkan cara2 spt itu.
Org indonesia sering gag sadar, terjebak dlm perilaku “selalu memaklumi segala kekurangan” padahal gag semua kekurangan itu boleh dimaklumi. Utk service public, sebenarnya ga boleh ada kata “excuse” utk ketidakbecusan servis, apalagi sampai ada komplain.
Tapi hebatnya, YLKI aja gag dianggep kok, disini…beda ama di luar negri kan.
begitu juga dgn kasus ini, standar minimal yang harus mereka penuhi, samasekali ga dilakukan – tapi lebih galak mereka, kan, malahan ini saya takut, anakku ntar dapet kesulitan stlh ini *mudah2an jangan deh* padahal mereka itu benar-benar tidak ada rasa pedulinya
February 22, 2010 at 3:24 AM
kalo ini sih namanya guru magabut.. karena org2 ga bertanggung jawab itulah, citra sekolah jadi jelek
February 22, 2010 at 8:13 AM
magabutnya membahayakan jiwa/keselamatan orang lain yg masih anak2…
February 22, 2010 at 9:54 AM
ternyata mahal g selalu bagus ya mba, dan ga smua guru berjiwa pendidik
February 22, 2010 at 4:35 PM
mahal memang ga berbanding lurus dengan mutu , mba – saya sadar itu. Sewaktu survey sih, yg model begini ndak kliatan ama saya – dan tidak ada yang kasih tau juga, padahal udah tanya kanan-kiri. Entahlah, isi kepala orang beda2 sih ya….ttg outbond ini saja, banyak juga ortu murid yang ga mau ambil pusing
February 22, 2010 at 11:12 AM
duh kalo sampe mbak ade marah-marah gitu dengan – sorry mbak – kata-kata kasar ada di blog ini, saya sudah bisa ngebayangin suasana outbond kemaren itu kayak apa…
sabar ya Mbak.. seperti yang saya bilang kemarin, kalo memang banyak orang tua yang komplain juga, komplain aja bareng-bareng. tapi ya itu, mesti satu suara… ngedumel di belakang memang ngga bakal menghasilkan apa-apa.
ah ya UUITE itu memang rese!
semoga si guru-guru itu segera sadar deh dengan perbuatan mereka.
*ikutan miris*
February 22, 2010 at 4:41 PM
iya, eee…aku baru nyadar artikelkuh rada sarkasme ya chi
maapkeun , tapi itu pengakuan jujur banget, padahal udah sehari loh, dicoba dihilangkan sebel, jengkel, marah dan sedihnya, baru nulis blog – eh, masih ada aja aura2 itu
pengennya sih komplain bareng2, tapi ya susah ngumpulin orangnya yg “sejalan” …. aku gag mau, ntar kalo ada apa2 aku dijadiin tameng, mrk saling tunjuk2an,gth. Balik lagi, mau gag mau, prinsip “cari selamat” akhirnya terpaksa kuanut
semoga ada “tangan-tangan Tuhan” yg menyadarkan mereka
makasiih ya chi atas ikutan miris nya ..hehe
Semoga Vio selalu dapet sekolah yg terbaik
February 22, 2010 at 11:45 AM
baca artikel ini buat saya jd nambah semangat utk meng-homescholling-kan anak2 saya nanti
February 22, 2010 at 4:43 PM
mudah2an mba…sepertinya homescholling di masa2 datang bisa lebih maju dr sekarang – maksudnya, lebih mudah tenaga pengajarnya (kerna sptnya kita butuh tenaga pengajar ya, krn kl gag, hrs kita sndiri yg turun tangan), trus ga berbelit2 urusan ijazahnya, dan mutu kelulusannya juga bersaing dgn yg sekolah reguler
February 28, 2010 at 1:42 PM
[...] 28, 2010 Hanya butuh dua hari saja-mungkin tidak sampai 2×24 jam- setelah” HARI NAAS “itu, si sulung saya, Syifa, mulai mengeluh sakiiit kalau menelan, alias radang tenggorokan. Ya, setelah [...]