Video Heboh buat Pelajaran
WARNING! Postingan bernada sedikit nyinyir, waspada…waspada… *apa seeeh!*
Ya ya ya…jenuh bahkan nyaris muak,ya – dengan berita heboh tentang video yang hot hot itu…saya termasuk yang muak
Muak dengan :
- Yang heboh nyebarin link-nya di ranah social media, apapun motivasinya, entah hanya untuk nyari bahan obrolan hangat antar sesama teman atau ada motif2 lainnya. Bukankah dengan memberikan link yang contentnya pornografi seperti itu, ya berarti sama saja dengan mental si pembuat video porno itu…?
- Wartawan/media yang dalam menyampaikan beritanya, gak fokus samasekali dengan tujuan pemberitaannya. Pendeknya, cuma mau cari sensasi belaka dengan bumbu-bumbu menyinggung soal moral. Hey,c’mond-kalian sadar gak, bahwa mencerdaskan bangsa ini, sebagian terletak di pundak kalian, para pewarta berita, jadi sampaikanlah informasi secara benar, dengan bahasa indonesia yang baik dan benar serta yang gak kalah penting, tujuan pemberitaan informasi tersebut menjadi jelas-bukan sekadar mencari sensasi. Saya yakin, setiap berita diinformasikan,pasti punya nilai, punya maksud, punya tujuan.
- Ibu2 yang punya anak dibawah umur, remaja , yang bukannya ngajak diskusi anaknya dengan suasana akrab & hangat, tapi malah bareng2 nonton tipi , ikut2n men-judge ini itu atas nama moral etika agama *padahal dia mencontohkan sikap amoral lho, secara ga langsung, kan menggunjingkan orang,yg belum tentu pasti benar* atau sebaliknya, para ortu yang gak mau tau soal ini, dan berfikikr bahwa anaknya ga akan nyari tahu soal ini, menganggap anaknya adalah anak baik2 yang kebal segala macam “virus degradasi moral”
- Bapak2 atau para suami, yang korupsi jam kantor, meski cuma 15-30 menit, hanya untuk nonton video itu, yang sudah jelas2 gak ada gunanya. Kecuali kalau anda sedang bermasalah di rumah dengan istri, oke-tapi cukup rugikan saja diri anda sendiri, ga perlu ngajak2 orang lain untuk donlot atau nonton.
- Saya juga sedikit muak dengan orang2 yang sebelum ada kejadian ini, mengidolakan para artis itu, tapi setelah ada kejadian ini, jadi terheran2 dan kecewa…lho, mereka kan manusia biasa, artis artinya pekerja seni, jadi mereka bekerja untuk seni, bukan supaya jadi idola, saya kira. Samasekali bukan membela artis, tapi coba kita pikir secara sehat, bukankah kita yang salah, kalau terlalu menjadikan seseorang sebagai “barometer” atau bahkan panutan? Selama dia masih manusia, kesalahan macam apapun, sangat mungkin terjadi.
Sepertinya adanya peristiwa video ini, lebih baik dijadikan momen buat kita semua – ya, kita termasuk saya kok, krn saya masih punya anak yg dibawah umur, jadi saya pakai buat nyisippin sex edu untuk mereka, saya jadi tahu seberapa pemahaman mereka tentang arti pornografi, video hubungan intim, arti kata asusila – dan saya hanya bisa menyimpulkan sebagian kecil pelajaran yang mungkin bisa diambil dari peristiwa ini, selain faktor kehebohannya itu sendiri :
- Sikapi segala pemberitaan informasi dengan bijak dan cerdas, hindari ikut2an mainstream – ga ikut arus bukan selalu berarti kuper dan kurang informasi,kan apalagi informasi yang ga ada gunanya macam itu – serap informasi terlebih dulu, kemudian olah pikiran, pakai akal sehat dan hati nurani. Setelah itu tanya ke diri sendiri, “kalau saya mau nyebarin berita ini, informasi ini, apa tujuan saya?” kalau hanya sebatas untuk obrolan kosong, lebih baik jangan posting di social media, gunakan jalur yang lebih privat. Kecuali misalnya, kasus korupsi, saya malah setuju2 banget, disebarin – asalkan, minimal 50 persen kita jamin kebenarannya, karena kita punya akses tersendiri – jadi bukan hanya asbun, ntar jatoh2nya fitnah. Obrolan secara privat dengan mengobrol lewat daring soc med, itu punya tujuan yang berbeda lho…so, be wise is better.
- Kita gak bisa bicara soal moralitas bangsa, tanpa terlebih dulu kita menyaring kelakuan dan omongan kita sendiri. Kelakuan artis yang sedang naik daun banyak yang bobrok atau headline2 berita yang menyoroti kasus2 hanya untuk mencari sensasi, mengejar target oplah – gak bisa begitu aja jadi “ukuran” moralitas bangsa secara keseluruhan. So many bad things happened, but still there’s one good thing happened everyday…masalahnya, akankah kebaikan itu berasal dari kita pribadi…? Jadi, mulailah menjaga sikap dan omongan kita sendiri.
- Satu lagi mungkin dikhususkan buat para ortu, ibu terutama, yuk mari kita jadikan momen ini-kalau kondisi di ibu memungkinkan- untuk menggali lebih dalam, seberapa pengertian anak2 kita tentang seks, pornografi, dan mungkin sangat banyak istilah2 baru yang mereka ga sengaja dengar di tipi. Jangan ibu tabukan, tapi justru ajak mereka ngobrol, tanpa tekanan, tanpa kata2 nasehat, gali sebanyak2nya informasi dari mereka, hingga kita tahu, omongan apa yang tepat kita sampaikan pada kondisi anak ibu saat sekarang. Ingat bu, media informasi cetak atau elektronik, hanya alat, seperti mata pisau, ga perlu ibu takutkan keberadaannya. Jika ibu ajarkan pisau itu untuk membuat prakarya atau memasak, akhirnya berguna juga bukan? Hanya saja, kebutuhan setiap anak berbeda2 dan tugas seorang ibu lah harus mengetahui, sejauh mana informasi yang bisa ibu sampaikan. Jangan pakai ukuran ibu2 yang lain, jangan hanya karena ikut2an pergaulan. Anak ibu sendiri yang merugi nantinya dan lebih jauh kerugian jangka panjang diderita ortu.
- Mungkin, disini UU ITE yang kontroversial itu, akan diuji, sejauh mana efektivitasnya, dalam mengatur hajat hidup orang banyak, lebih jauh, kegunaannya untuk mencerdaskan anak bangsa…let’s see…saya berharap banget, entah itu pelaku pembuatan video itu-mungkin termasuk artisnya, kalau memang benar itu mereka, juga yang menyebarkannya, seperti kata pak polisi, dari hulu ke hilir, bisa tertangkap dan dihukum, semoga juga bisa menimbulkan efek jera buat mereka dan orang2 yang hendak berencana seperti mereka. Efek jera ini yang banget-banget saya harapkan, biar ke depannya gak lagi kejadian2 amoral seperti ini terjadi & menimbulkan kehebohan.
Terakhir, saya buat postingan ini, semata karena lama2 saya bosan mendengar soal moralitas disinggung2, terutama media, padahal mereka sendiri, turut menyebarkan informasi amoral secara tidak bijak. Begitu juga dengan orang2 yang sebegitunya memperbincangkan hal ini, seolah Ariel & Luna itu dewa dewi yang gak bakal salah. Mestinya, begitu tahu, ya sudah-ga perlu heboh sana sini- toh belum dipastikan kebenarannya secara hukum. Terlebih lagi, kejadian itu mestinya dilaporin,dong-kalau sampai beredar luas- kan merugikan generasi muda, anak2 SD sekarang udah banyak lho, yang pakai smartphone atau blackberry. Jadi kalau memang kita peduli sama moralitas, ya adukan aja *untunglah udah ada LSM yang ngelaporin* karena kalau ga ada yang lapor, ya mereka yang buat video itu, enak2an aja, malah bikin yang baru. Sekarang, minimal, kita berharap semoga kasus ini diusut tuntas, daaaannnn, jangan lupa ngikutin lagi beritanya…jangan asal ikut2an heboh aja
Like this:
This entry was posted on June 10, 2010 at 8:55 AM and is filed under Saya dan Keseharian with tags berita, pornografi, sex edu, social media, video. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed You can leave a response, or trackback from your own site.
June 10, 2010 at 9:00 AM
Hehehe…satu lagi postingan nyinyir ala saya…setelah sekian lama ga posting, sorry banget kalo ga enak bacanya
June 18, 2010 at 2:43 PM
mbak’eee… ya ampun, kemana aja? miss you mbak
June 22, 2010 at 12:55 PM
ini ga nyinyir kok Mbak, tapi kebenaran…
apa kabar mbak kuuuuuu….